Jakarta, KalibrasiNews.com – Badan Pusat Statistik mengumumkan, nilai ekspor RI (Republik Indonesia) sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai USD 282,91 miliar atau tumbuh 6,15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagai pembanding, nilai ekspor RI pada Januari-Desember 2024 adalah sebesar USD 266,53 miliar.
Capaian ini sekaligus menandai pemulihan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia yang semakin solid, di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, perlambatan pertumbuhan sejumlah negara mitra dagang, serta fluktuasi harga komoditas dunia.
Pertumbuhan ekspor RI tersebut menunjukkan daya tahan sektor riil nasional, terutama industri berbasis nilai tambah, yang terus beradaptasi dengan perubahan permintaan pasar internasional sepanjang 2025.
Ekspor RI sebesar USD 282,91 miliar tersebut berasal dari ekspor migas senilai USD 13,07 miliar dan ekspor nonmigas USD 269,84 miliar.

Kontribusi ekspor nonmigas yang tetap mendominasi memperlihatkan pergeseran struktur ekspor RI yang semakin mengandalkan produk manufaktur dan hasil pengolahan, dibandingkan komoditas mentah.
Hal ini sejalan dengan kebijakan hilirisasi pemerintah yang mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri, sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.
Peningkatan ekspor RI sepanjang 2025 terutama ditopang oleh ekspor industri pengolahan yang sebesar USD 227,10 miliar atau naik 14,47 persen secara tahunan (year on year/yoy).
“Industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan ekspor RI sepanjang tahun 2025 dengan andil terhadap peningkatan ekspor sebesar 10,77 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/2).
Selain menopang kinerja ekspor, penguatan industri pengolahan juga mencerminkan semakin matangnya ekosistem manufaktur nasional, mulai dari hulu hingga hilir.
Sejumlah kawasan industri baru terus tumbuh di berbagai daerah, mendorong pemerataan ekonomi sekaligus mengurangi ketimpangan antarwilayah.
Di sisi lain, meningkatnya ekspor produk bernilai tambah turut memperbaiki struktur neraca perdagangan, memperkuat cadangan devisa, serta memberi ruang fiskal yang lebih luas bagi pemerintah untuk melanjutkan program pembangunan.
Tren ini juga menjadi sinyal positif bagi investor bahwa Indonesia tidak lagi hanya mengandalkan ekspor bahan mentah, tetapi mulai konsisten membangun fondasi ekonomi berbasis industri.
BPS mencatat, nilai ekspor hampir semua komoditas nonmigas unggulan mengalami peningkatan sepanjang 2025. Hanya komoditas batu bara yang nilai ekspornya menurun.
Meski demikian, penurunan ekspor batu bara mencerminkan adanya tekanan dari sisi harga global serta penyesuaian permintaan dari beberapa negara tujuan utama.
Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi produk ekspor agar ketergantungan pada komoditas primer dapat terus dikurangi, sekaligus memperluas pangsa pasar produk manufaktur Indonesia yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Ekspor besi dan baja misalnya, nilainya meningkat 8,41 persen secara tahunan menjadi USD 27,97 miliar. Kemudian nilai ekspor CPO dan turunannya tumbuh 21,83 persen secara tahunan menjadi USD 24,42 miliar. Sedangkan nilai ekspor batu bara sepanjang 2025 tercatat sebesar USD 24,48 miliar atau turun 19,70 persen secara tahunan.
Dari sisi kebijakan, pemerintah terus mendorong perluasan akses pasar melalui perjanjian dagang, promosi ekspor, serta fasilitasi bagi pelaku usaha, khususnya UMKM berorientasi ekspor.
Upaya ini diharapkan mampu memperkuat struktur ekspor nasional secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi menghadapi gejolak eksternal di masa mendatang.
Sementara untuk negara-negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, Tiongkok masih menjadi yang terbesar dengan 24,02 persen dari pangsa pasar.
ASEAN menjadi tujuan ekspor terbesar kedua dengan 19,12 persen dari pangsa pasar, diikuti Amerika Serikat (11,47 persen), Uni Eropa (7,15 persen), India (6,79 persen), dan negara-negara lainnya (31,45 persen).
Ke depan, tantangan ekspor Indonesia tidak hanya berkutat pada fluktuasi harga komoditas global, tetapi juga persaingan pasar yang semakin ketat serta tuntutan standar lingkungan dan keberlanjutan dari negara tujuan.
Oleh karena itu, penguatan kualitas produk, efisiensi rantai pasok, serta adopsi teknologi menjadi kunci agar pertumbuhan ekspor dapat terus dijaga.
Dengan fondasi industri pengolahan yang semakin kuat dan dukungan kebijakan pemerintah yang berkelanjutan, kinerja ekspor diharapkan mampu menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkokoh posisi Indonesia dalam rantai perdagangan dunia.(/rel)



