Deretan Alutsista Baru TNI: Kapal Induk, Rafale hingga Mi-35M

PADANG, KalibrasiNews.com – Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ditandai dengan langkah penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sejumlah kapal perang, pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, hingga kendaraan tempur amfibi didatangkan untuk memperkuat kemampuan pertahanan sekaligus mendukung tugas kemanusiaan di berbagai wilayah.

Dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) yang diterima redaksi disebutkan bahwa modernisasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kekuatan militer yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan operasi.

Sebagai negara kepulauan dengan wilayah luas, Indonesia membutuhkan kemampuan laut, udara, dan darat yang saling mendukung, termasuk untuk menjangkau daerah terpencil maupun membantu masyarakat saat terjadi bencana.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa kemampuan TNI tidak hanya dibutuhkan untuk menjaga kedaulatan, tetapi juga untuk membantu masyarakat menghadapi keadaan darurat dan berbagai kesulitan.

Dalam keterangannya pada Selasa (20/10/2026), ia menyoroti luas wilayah Indonesia dan pentingnya kemampuan udara untuk mendukung pelaksanaan tugas negara.

“TNI adalah alat negara yang sangat besar peranannya dalam menghadapi bencana, menghadapi kesulitan, menghadapi masalah-masalah kepentingan masyarakat. Jadi saya kira ini akan menambah kemampuan kita. Wilayah kita sangat besar, sebesar Eropa, kemudian sekian belas ribu pulau. Udara bagi kita sangat-sangat menentukan,” ujar Prabowo.

Ia juga menekankan bahwa pembangunan kekuatan militer harus meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas, baik untuk menjaga wilayah maupun membantu agenda pembangunan nasional.

“Dan yang sangat penting, semua TNI sekarang kita bangun untuk menjadi lebih efektif, tidak hanya menjaga wilayah, tapi juga mengamankan dan mendukung pembangunan nasional,” katanya.

Penguatan Armada Laut, Udara, dan Darat

Di matra laut, TNI Angkatan Laut diperkuat dua kapal perang buatan Italia, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, produksi Fincantieri.

Kedua kapal tersebut memperkuat Koarmada II di Surabaya untuk mendukung pengamanan wilayah perairan Indonesia.

TNI AL juga menerima KRI Belati-622, Kapal Cepat Rudal 60 meter buatan dalam negeri yang dapat menjalankan tugas patroli maupun operasi tempur.

Penguatan armada laut turut ditandai dengan masuknya KRI Sriwijaya-100, kapal induk eks Angkatan Laut Italia yang diperoleh melalui hibah dan resmi diterima pada 24 September 2026.

Kapal sepanjang 180,2 meter itu memiliki dek penerbangan untuk mengoperasikan sejumlah helikopter dan pesawat nirawak serta mampu mencapai kecepatan sekitar 30 knot.

Baca Juga  Terbaru! BNPB Sebut Mayoritas Wilayah Terdampak di Sumbar, Sumut dan Aceh Masuk Fase Pemulihan

Kehadirannya diproyeksikan menambah pilihan dukungan operasi maritim, termasuk untuk misi kemanusiaan.

Pada matra udara, sejumlah pengadaan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan tempur dan mobilitas. Rinciannya meliputi:

  • Airbus A400M Atlas: Dua pesawat angkut diterima dalam dua tahap, yakni November 2025 dan Maret 2026. Pesawat ini dapat mengangkut hingga 116 personel bersenjata lengkap, kendaraan, dan muatan besar, serta dimanfaatkan untuk membawa bantuan ke daerah terdampak bencana.
  • Jet tempur Rafale: Enam unit dilaporkan telah berada di Indonesia dari total 42 unit yang dipesan. Pesawat buatan Dassault Aviation, Prancis, memiliki kecepatan maksimum Mach 1,8 dan kapasitas membawa persenjataan hingga 9.500 kilogram.
  • Dassault Falcon 8X: Empat pesawat untuk kebutuhan mobilitas udara jarak jauh, dengan kapasitas 13–16 penumpang dan jangkauan terbang hingga 11.945 kilometer.
  • Helikopter: Indonesia juga mendatangkan delapan unit H225M Caracal dan dua unit H225T VVIP sebagai penunjang kebutuhan angkut taktis serta mobilitas udara.

Di lingkungan TNI Angkatan Darat, dua helikopter Mi-35M buatan Rusia tiba pada 2026 dan berada di Pusat Penerbangan Angkatan Darat, Semarang, sejak awal September.

Meski memiliki kemampuan tempur, helikopter tersebut direncanakan lebih banyak membantu pengiriman logistik ke Papua, wilayah yang memiliki tantangan geografis dan sejumlah daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Sementara itu, Korps Marinir TNI AL menerima 12 kendaraan tempur amfibi AAV-M35 buatan Amerika Serikat pada September 2026.

Kendaraan ini dapat membawa hingga 24 personel dan bergerak di darat maupun air.

Dengan mesin berkekuatan 525 horsepower, kecepatannya mencapai 75 kilometer per jam di darat dan 15 kilometer per jam di air.

Persenjataannya meliputi senapan mesin kaliber 12,7 milimeter dan pelontar granat otomatis 40 milimeter.

Beragam pengadaan tersebut menunjukkan penguatan kemampuan TNI di beberapa matra sekaligus.

Namun, kehadiran alutsista baru juga perlu diikuti kesiapan awak, perawatan, logistik, dan pelatihan agar perangkat dapat digunakan secara efektif.

Dalam semangat Dua Tahun Gerak Nyata, modernisasi diharapkan bukan hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga meningkatkan kemampuan negara melindungi masyarakat dan mendukung pembangunan nasional.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini