PADANG, Kalibrasinews.com — Fermentasi buah durian yang selama ini dikenal beraroma kuat ternyata menyimpan potensi besar dalam mendukung pengelolaan serta pengendalian hama tanaman pertanian.
Melalui inovasi teknologi perangkap nutrisi berbahan fermentasi durian, para petani di Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, diajak mempraktikkan metode pengendalian hama alternatif yang terjangkau, ramah lingkungan, dan dapat diintegrasikan ke dalam sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Teknologi ini dikenalkan secara langsung oleh tim akademisi dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand).
Langkah edukatif ini dikemas melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Petani Lubuk Minturun melalui Introduksi Teknologi Perangkap Nutrisi Durian untuk Pengendalian Hama Lepidoptera pada Tanaman Padi dan Sayuran.”
Program pengabdian yang berlangsung selama lima bulan, terhitung sejak Juli hingga November 2026, ini melibatkan sejumlah pakar keilmuan proteksi tanaman dari Universitas Andalas. Tim akademisi tersebut terdiri dari:
-
Prof. Dr. Ir. Hidrayani, M.Sc.
-
Prof. Dr. Ir. Novri Nelly, M.P.
-
Dr. Ir. Arneti, M.S.
-
Astri H. Putri, S.P., M.Sc.
Melalui kolaborasi ini, pengalaman penerapan teknologi dipadukan secara langsung dengan pengamatan lapangan untuk mengukur potensi efektivitas perangkap pada ekosistem pertanian setempat.
Dalam pertemuan sosialisasi dan praktik yang digelar pada 2 Oktober 2026, tim Unand bersama Kelompok Tani Telaga Biru mendiskusikan pentingnya penerapan strategi PHT.
Pendekatan PHT menegaskan bahwa pengelolaan populasi organisme pengganggu tumbuhan tidak boleh bergantung secara eksklusif pada satu metode, melainkan memadukan berbagai teknik yang aman serta selaras dengan keseimbangan ekosistem.
Perangkap nutrisi durian dirancang khusus sebagai alat bantu untuk memikat hama dari ordo Lepidoptera, seperti ngengat dan kupu-kupu.
Beberapa spesies serangga dalam ordo ini tergolong sebagai hama utama pada tanaman padi maupun sayuran, khususnya pada fase larva yang kerap merusak bagian daun dan batang tanaman.
Melalui sesi praktik langsung, para petani diajarkan cara mengolah bahan fermentasi durian, melakukan proses pengenceran dengan takaran tepat, hingga merakit wadah perangkap menggunakan botol plastik air mineral bekas.
Botol sederhana tersebut dimodifikasi dengan membuat lubang masuk bagi serangga, kemudian diisi cairan larutan nutrisi sebelum digantung pada tiang penyangga di area lahan pertanian.
Aroma tajam hasil fermentasi durian berfungsi sebagai atraktan atau zat pemikat alami yang menarik perhatian serangga untuk mendekat dan terperangkap di dalam botol.
Meski sistem kerjanya bertumpu pada aroma, tingkat keanekaragaman serangga yang tertangkap serta tingkat keandalannya di lahan terbuka masih perlu dievaluasi secara berkala melalui pemantauan sistematis.
Penerapan Pengendalian Hama Terpadu Berbasis Bahan Lokal
Kegiatan pemberdayaan ini diikuti secara antusias oleh Ketua Kelompok Tani Telaga Biru, Jamaris, bersama belasan anggota petani di Kelurahan Lubuk Minturun.
Kehadiran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Kota Padang semakin memperkuat sinergisitas lintas sektor antara perguruan tinggi, penyuluh pemerintah, dan masyarakat tani dalam memasyarakatkan teknologi terapan di tingkat lapangan.
Seluruh perangkap yang telah terpasang di areal pertanaman padi dan lahan sayuran milik petani akan diamati secara rutin hingga bulan November 2026 mendatang.
Tim akademisi bersama petani akan mencatat serta mengidentifikasi jenis dan jumlah serangga yang terperangkap guna memperoleh data konkret terkait tingkat efektivitas aroma fermentasi durian dalam menekan populasi hama sasaran.
Proses pengamatan berkala ini menjadi bagian krusial karena tingkat efektivitas suatu inovasi pertanian wajib dinilai berdasarkan data empiris di lapangan, bukan sekadar asumsi awal.
Data hasil pengamatan di Lubuk Minturun nantinya akan melengkapi informasi dari uji coba sebelumnya sekaligus menjadi bahan evaluasi guna menentukan peluang pengembangan teknologi ini secara lebih luas.
Bagi petani lokal, penggunaan bahan yang mudah diperoleh serta wadah dari botol plastik bekas memberikan gambaran nyata bahwa inovasi pertanian tidak selalu membutuhkan peralatan mahal.
Kendati demikian, kemudahan perakitan ini tetap harus diimbangi dengan pemahaman teknik penggunaan dan pemantauan berkala agar alat berfungsi optimal sebagai strategi pengendalian hama yang menyeluruh.
Tim pengabdian Unand menegaskan bahwa perangkap nutrisi durian berkedudukan sebagai elemen pelengkap, bukan pengganti penuh seluruh metode pengendalian lainnya.
Dalam konsep PHT, keputusan tindakan pengendalian di lapangan tetap wajib didasarkan pada analisis populasi hama dan kondisi riil tanaman agar pengelolaan dilakukan secara efisien dan tepat sasaran.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, Departemen Proteksi Tanaman Unand berkomitmen menjembatani teori ilmiah dengan praktik lapangan secara berkelanjutan.
Kolaborasi aktif bersama petani dalam merakit, memasang, hingga memantau perkembangan alat menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang membawa manfaat langsung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat tani di Sumatera Barat. (*)



