JAKARTA, KalibrasiNews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia tengah bersiap menghadapi puncak musim kemarau ekstrem yang diperparah oleh fenomena anomali iklim El Nino.
Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika & Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia atau Bakom RI yang diterima redaksi KalibrasiNews.com Sabtu (4/7/2026) menyebutkan bahwa berdasarkan data iklim terbaru, fenomena El Nino tersebut diprediksi terus berkembang hingga berpotensi mencapai intensitas yang kuat.
Fenomena El Nino yang semakin menguat perlu menjadi perhatian bersama karena dampaknya dapat dirasakan di berbagai sektor kehidupan.
Penurunan curah hujan tidak hanya memengaruhi ketersediaan air, tetapi juga meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, kesiapsiagaan menjadi langkah penting dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.
Informasi prakiraan cuaca dan iklim juga perlu terus dipantau agar setiap pihak dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai kondisi di lapangan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa hingga pertengahan Juni 2026, sekitar 37,6 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau.
Selain itu, data terkini mencatat sebanyak 47,16 persen wilayah Indonesia juga telah mengalami curah hujan dengan intensitas di bawah normal.

Lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.
“Bahkan, pada periode Juli hingga Oktober 2026 nanti, lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal. Adapun puncak musim kemarau diproyeksikan akan terjadi pada kisaran Bulan Juli hingga September 2026 mendatang, ” ujar Ardhasena dalam keterangan resminya.
Lebih lanjut, Ardhasena menjelaskan bahwa penguatan intensitas El Nino ini akan berdampak langsung pada pengurangan volume curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah nusantara.
Kondisi anomali ini berpotensi menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung jauh lebih kering dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menyikapi ancaman kekeringan tersebut, BMKG mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk segera melakukan langkah-langkah antisipasi dini dan adaptasi mandiri sesuai dengan karakteristik kebutuhan wilayah masing-masing.
Selain sektor pertanian, dampak El Nino juga berpotensi memengaruhi kebutuhan air bersih, kesehatan masyarakat, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan memperkuat langkah mitigasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efektif serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kekeringan.
Kolaborasi seluruh pihak menjadi faktor penting agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan.
Edukasi kepada masyarakat juga perlu terus ditingkatkan agar kesadaran terhadap pentingnya penghematan air semakin tumbuh
Secara khusus, perhatian besar diberikan pada stabilitas sektor ketahanan pangan nasional.
Ardhasena menekankan pentingnya langkah mitigasi strategis bagi para pelaku di sektor pertanian guna menghindari risiko gagal panen akibat keterbatasan pasokan air.
“Bagi sektor pertanian, beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan antara lain adalah penyesuaian jadwal tanam, optimalisasi penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering serta berumur genjah, hingga pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan,” jelasnya.
Pemanfaatan informasi iklim dari BMKG diharapkan menjadi acuan bagi para petani dalam menentukan langkah yang tepat selama musim kemarau berlangsung.
Penyesuaian pola tanam berdasarkan prakiraan cuaca dapat membantu mengurangi risiko kerugian akibat perubahan iklim.
Selain itu, koordinasi antara pemerintah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani perlu terus diperkuat.
Langkah tersebut akan memudahkan penyaluran informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat.
Dengan persiapan yang matang, sektor pertanian diharapkan tetap mampu menjaga produktivitas meski menghadapi tantangan cuaca ekstrem.
Guna memastikan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat mendapatkan data yang akurat, BMKG menegaskan komitmennya untuk terus memantau dinamika perkembangan iklim global maupun regional secara ketat.
BMKG juga akan memperbarui seluruh informasi prediksi iklim ini setiap 10 hari sekali.
Melalui pembaruan informasi iklim secara berkala, BMKG berharap masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi dampak El Nino serta mengambil langkah antisipasi yang tepat demi menjaga keselamatan, ketahanan pangan, dan keberlangsungan aktivitas di berbagai sektor.
(/KalibrasiNews.com)



