LIMA PULUH KOTA, Kalibrasinews.com — Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah meninjau Situs Menhir Bawah Parit di Jorong Kototinggi, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumbar pada Kamis (28/5/2026).
Turut hadir mendampingi Gubernur dalam peninjauan tersebut Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setdaprov Sumbar Nolly Eka Mardiyanto, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, serta Kepala Biro Umum Setdaprov Sumbar Andre Algamar.
Siaran pers Biro Adpim Pemprov Sumbar menyebutkan keberadaan menhir tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat di kawasan Maek telah memiliki budaya dan peradaban maju sejak zaman silam.
Dalam kunjungan kali ini, Gubernur Mahyeldi bertekad dan memberi dukungan terhadap pelestarian situs sejarah.
Utamanya, guna memperkuat nilai peradaban dan budaya masyarakat Minangkabau sejak ribuan tahun silam.
Situs Menhir Bawah Parit diketahui sebagai kompleks menhir terbesar di kawasan Mahat dengan luas sekitar 6.000 meter persegi.
Di lokasi tersebut terdapat sekitar 370 menhir dengan berbagai ukuran.
Keberadaan ratusan situs menhir di kawasan tersebut menjadikan Nagari Maek sebagai salah satu situs megalitikum penting di Sumatera Barat yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Selain menjadi bukti keberadaan peradaban masa lampau, kawasan ini juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi budaya yang mampu menarik perhatian wisatawan maupun peneliti dari dalam dan luar negeri.
Sebagian menhir masih berdiri tegak, sementara sebagian lainnya telah rebah dengan orientasi menghadap tenggara ke arah Gunung Sago.
Kekayaan Simbol Budaya
Selain itu, di kawasan tersebut juga ditemukan lima menhir berhias dengan motif tumpal, pucuk rebung, kaluak paku, geometris, hingga siriah gadang yang memperlihatkan kekayaan simbol budaya masyarakat masa lampau.
Pada kesempatan sama, Mahyeldi menyebut Nagari Maek sebagai “negeri seribu menhir” yang memiliki kelompok menhir terbanyak di Sumbar.
“Kita hadir langsung di Nagari Maek karena ini adalah negeri seribu menhir. Menhir yang berkelompok seperti ini hanya ada di Nagari Maek, Kabupaten Lima Puluh Kota,” ujar Mahyeldi.
Menurutnya, keberadaan menhir tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat di kawasan Maek telah memiliki budaya dan peradaban maju sejak ribuan tahun sebelum masehi.
“Ini membuktikan bahwa masyarakat di Maek sejak ribuan tahun sebelum masehi sudah memiliki budaya. Mereka hidup berkelompok, memiliki kompleks pemakaman, serta ukiran-ukiran pada menhir yang menunjukkan adanya peradaban,” katanya.
Mahyeldi menegaskan, situs menhir Maek merupakan warisan sejarah penting yang perlu terus diteliti secara ilmiah agar nilai sejarah dan kebudayaannya dapat semakin terungkap.
Menurut Mahyeldi, pelestarian situs budaya tidak cukup hanya melalui perlindungan fisik semata, tetapi juga perlu diiringi dengan penguatan edukasi kepada generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan leluhur.
Dengan demikian, keberadaan situs menhir di Nagari Maek tidak hanya menjadi simbol sejarah masa lalu, tetapi juga sumber pengetahuan dan identitas budaya masyarakat Minangkabau untuk masa depan.
Ia juga menyampaikan bahwa perhatian terhadap situs menhir datang dari berbagai kalangan internasional, termasuk tokoh Malaysia, Rais Yatim, yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu.
“Saya datang ke sini karena sebelumnya sudah bertemu dengan Rais Yatim dari Malaysia. Beliau sangat tertarik karena tulisan-tulisan dan ukiran pada menhir ini merupakan sesuatu yang harus dibaca dan diteliti lebih dalam,” ungkapnya.
Mahyeldi mengungkap, pada Oktober 2026 mendatang direncanakan akan hadir peneliti dari Australia untuk melakukan kajian lebih lanjut terhadap situs tersebut.
Karenanya, Pemprov Sumbar mendorong kolaborasi para ahli dari berbagai negara guna mengungkap lebih jauh nilai sejarah dan kebudayaan yang terkandung di kawasan menhir Maek.
“Mudah-mudahan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan langkah besar dalam pelestarian situs budaya yang sarat akan sejarah ini,” tuturnya.
Keberadaan Situs Menhir Bawah Parit di Nagari Maek semakin mempertegas bahwa Sumatera Barat menyimpan kekayaan sejarah dan peradaban yang besar sejak ribuan tahun lalu.
Melalui perhatian pemerintah, dukungan masyarakat, serta keterlibatan para peneliti, kawasan tersebut diharapkan dapat terus terjaga sekaligus menjadi pusat kajian sejarah dan budaya yang membanggakan bagi Ranah Minang.
Selain bernilai akademis, situs menhir itu juga diyakini mampu membuka peluang pengembangan wisata budaya yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
(rel/adpsb/Kalibrasinews.com)



