MAKASSAR, Kalibrasinews.com – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah sudah berpengalaman menghadapi musim kemarau dampak El Nino Godzilla. Menurutnya, situasi saat ini masih lebih baik jika dibandingkan tahun 2015.
“Katanya kering enam bulan, oke. Tapi sepertinya masih lebih tinggi El Nino yang dulu, (tahun) 2015. Kami sudah pengalaman mengelola El Nino bersama teman-teman, (tahun) 2015, 2023, 2024,” kata Amran dalam kunjungan ke Makassar, Sulawesi Selatan.
Dikutip dari siaran pers (Press Release) Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) bahwa Ia menyatakan dengan prediksi kemarau panjang selama enam bulan, pemerintah memproyeksikan stok pangan dalam negeri aman hingga 11 bulan mendatang.
Fenomena El Nino sendiri merupakan kondisi pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat memicu penurunan curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia. Dampaknya kerap dirasakan pada sektor pertanian, terutama dalam bentuk kekeringan yang berpotensi menurunkan produksi pangan.
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena El Nino menjadi perhatian serius pemerintah karena dapat memengaruhi stabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok. Oleh sebab itu, berbagai langkah antisipatif terus disiapkan guna meminimalisir dampak yang ditimbulkan.
Perhitungan ketahanan stok pangan ini didasarkan pada gabungan ketersediaan beras nasional saat ini, baik yang ada di gudang Bulog, sektor swasta, maupun potensi panen yang sedang dan akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
“Sebelas bulan ke depan ini aman. Stoknya untuk rakyat Indonesia aman. Sedangkan kekeringan hanya 6 bulan. Berarti aman, pangan aman,” ucap Amran.

Stok beras di gudang Bulog.
Menurut Amran, stok beras di gudang Bulog saat ini mencapai 4,5 juta ton. Dalam 20 hari ke depan, jumlah tersebut diprediksi akan bertambah menjadi 5 juta ton.
Selain itu, terdapat stok beras swasta di sektor perhotelan, restoran, dan kafe (Horeka) yang saat ini mencapai 12,5 juta ton. Kemudian, ada juga tambahan stok dari hasil panen tanaman yang sudah ada (standing crop) dengan potensi sebesar 11 juta ton.
Selain jumlah stok yang memadai, distribusi pangan juga menjadi faktor krusial dalam memastikan ketersediaan bahan pokok di berbagai daerah.
Pemerintah bersama pihak terkait terus berupaya menjaga kelancaran distribusi agar tidak terjadi kelangkaan di wilayah tertentu.
Peran sektor swasta juga dinilai cukup signifikan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi salah satu kunci dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah tantangan iklim yang tidak menentu.
Kemudian, melalui berbagai kebijakan seperti program pompanisasi untuk mengantisipasi penurunan produksi akibat cuaca panas mulai April 2026, Amran memperkirakan akan ada tambahan panen hingga 2 juta ton per bulan, sehingga akan ada tambahan stok beras sebesar 12 juta ton.
Program pompanisasi yang dijalankan pemerintah merupakan bagian dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, khususnya dalam menghadapi potensi kekeringan.
Dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia, petani diharapkan tetap dapat melakukan aktivitas tanam meskipun curah hujan menurun.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan teknologi pertanian yang lebih efisien serta pengelolaan sumber daya air secara optimal. Upaya ini bertujuan untuk menjaga produktivitas sektor pertanian tetap stabil sepanjang tahun.
Karenanya, ia memproyeksikan stok beras sangat aman, bahkan hingga lebih dari 11 bulan atau sampai puncak panen Tahun 2027.
Ketersediaan stok dalam jangka waktu panjang tersebut menjadi indikator penting bahwa sistem ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi yang relatif stabil.
Pemerintah tidak hanya mengandalkan stok yang ada, tetapi juga memperhitungkan siklus produksi dan distribusi yang berjalan.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat, terutama dalam menghadapi potensi gangguan akibat faktor cuaca ekstrem yang sulit diprediksi secara pasti.
“Berarti bisa sampai Maret, panen puncak tahun depan, aman. Bahkan bisa overlap sampai April 2027,” tegasnya.
Bertalian dengan itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga menyatakan terus memperkuat stok cadangan pangan pemerintah (CPP) menghadapi El Nino Godzilla.
Menurut data Bapanas per 2 April 2026, stok CPP beras sebesar 4,4 juta ton, jagung pakan 168 ribu ton, gula pasir 49 ribu ton, dan minyak goreng 121 ribu kiloliter. Lalu, daging sapi 8 ribu ton, daging kerbau 3 ribu ton, daging ayam 39 ton, dan telur ayam 17 ton.
Dengan berbagai langkah antisipasi yang telah disiapkan, pemerintah optimistis dampak El Nino dapat dikendalikan tanpa mengganggu ketersediaan pangan secara signifikan.
Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat perubahan iklim yang semakin dinamis. Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga hingga ke depan.
(/rel)



