SUBULUSSALAM, Kalibrasinews.com — Berangsur-angsur, masyarakat Aceh mulai pulih dari bencana banjir yang melanda pada akhir November 2025. Balap Robin adalah satu upaya masyarakat di Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, untuk perlahan bangkit dari bencana.
Kehadiran Balap Robin di tengah suasana pemulihan ini menjadi simbol kuat semangat baru bagi masyarakat setempat untuk kembali bangkit.
Balap Robin tidak hanya dipandang sebagai ajang hiburan semata, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi kebersamaan warga yang sebelumnya sempat terpukul akibat bencana banjir.
Melalui kegiatan ini, masyarakat mencoba mengembalikan suasana ceria sekaligus membangun kembali optimisme dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Rilis Badan Komunikasi Pemerintahan Republik Indonesia atau Bakom RI menyebutkan terlihat antusiasme masyarakat dalam mengikuti dan menyaksikan Balap Robin ini. Balap Robin atau Robin Cross adalah balapan antarperahu tradisional bermesin Robin milik nelayan.
Balap Robin sendiri telah lama menjadi tradisi khas yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi perlombaan adu kecepatan perahu bermesin, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal serta budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Balap Robin bahkan kerap menjadi momen yang dinantikan karena mampu menyatukan berbagai kalangan masyarakat dalam satu kegiatan yang penuh semangat dan kebersamaan.
Balap Robin berlangsung di sungai Lae Soraya yang membentang di Kecamatan Rundeng. Balapan ini biasanya berlangsung pada momen Lebaran atau Idulfitri atau menyambut 1 Syawal.
Setiap penyelenggaraannya, Balap Robin selalu berhasil menarik perhatian masyarakat dari berbagai penjuru, baik warga lokal maupun pendatang dari daerah sekitar.
Suasana di bantaran sungai menjadi sangat ramai dengan sorak sorai penonton yang memberikan dukungan kepada para peserta.
Momen ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana hiburan rakyat yang mampu menghadirkan kegembiraan di tengah suasana Lebaran.

Tengku Fikri Wirlandi Kombi, salah satu warga yang menyaksikan balapan.
Tengku Fikri Wirlandi Kombi, salah satu warga yang menyaksikan balapan itu mengatakan kegiatan ini menjadi salah satu hiburan warga Subulussalam.
Selain menghadirkan hiburan, kegiatan ini juga memiliki nilai sosial yang sangat tinggi bagi masyarakat. Interaksi yang terjadi selama acara berlangsung mampu mempererat hubungan antarwarga, baik yang sudah saling mengenal maupun yang baru bertemu.
Hal ini menjadikan acara tersebut sebagai wadah silaturahmi yang efektif, terutama dalam momen Lebaran yang identik dengan kebersamaan.
Menurutnya, lomba ini membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terbantu. Fikri berharap pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan ini.
Dukungan dari pemerintah daerah diharapkan dapat menjadi faktor pendorong utama dalam pengembangan kegiatan ini ke depan.
Dengan adanya perhatian lebih, baik dari sisi anggaran maupun fasilitas, kegiatan ini berpotensi berkembang menjadi event yang lebih besar dan terorganisir dengan baik. Bahkan, bukan tidak mungkin kegiatan ini dapat menarik wisatawan dari luar daerah jika dikelola secara maksimal.
“Kegiatan ini sangat positif karena menjunjung tinggi silaturahmi antara masyarakat. Dan kami harap kepada pemerintah agar selalu men- support event-event tahunan ini,” kata Fikri, dikutip Rabu (25/3/2026).

Ketua Panitia Balap Robin, Muhammad Ikhwan Sambo
Ketua Panitia Balap Robin, Muhammad Ikhwan Sambo mengatakan Balap Robin ini didukung jajaran dari Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Rundeng.
Tak pelak, ratusan masyarakat tampak memadati bantaran sungai yang menjadi lokasi balapan. Mereka antusias menyaksikan adu cepat mesin-mesin dari perahu kayu yang melaju kencang dengan suara khasnya.
Di balik keseruan perlombaan, faktor keselamatan tetap menjadi perhatian utama bagi panitia dan peserta. Mengingat medan sungai yang cukup menantang, setiap peserta diharapkan tetap berhati-hati dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan. Upaya ini penting untuk meminimalisir risiko kecelakaan yang dapat terjadi selama perlombaan berlangsung.
Sempat terjadi ketegangan karena salah satu peserta ada yang karam akibat hantaman arus. Namun, kesiapsiagaan panitia dalam memberikan pertolongan membuat insiden tersebut tidak memakan korban.
“Masyarakat yang mengikuti perlombaan ini dari kalangan masyarakat seluruh Kecamatan Rundeng. Kami berencana mengajukan ke pemerintah kota untuk dilangsungkan perlombaan tingkat kota,” kata Ikhwan.
Panitia berharap lomba ini bisa terus berlangsung setiap tahunnya untuk mempererat tali silaturahmi. Lomba ini juga menjadi salah satu cara melestarikan budaya sungai yang menjadi ciri khas masyarakat Rundeng.
(rel)



