PADANG, KalibrasiNews.com — Program Studi Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas atau MMB Unand mencatat tonggak sejarah penting dengan meluluskan mahasiswa pascasarjana pertamanya, Abdul Aziz Nasta.
Kelulusan ini bukan sekadar capaian individual, tetapi menjadi simbol kematangan akademik program yang telah terakreditasi secara nasional dan dirancang oleh MMB Unand untuk menjawab tantangan kebencanaan di kawasan multi-hazard seperti Sumatera Barat.
Abdul Aziz Nasta menyelesaikan studi magisternya dalam waktu tiga semester dan meraih nilai A untuk tesisnya, sebuah capaian yang dinilai luar biasa bagi mahasiswa di lingkungan MMB Unand, mengingat program ini masih tergolong baru.
Ia mempertahankan tesis berjudul “Analisis Dampak Banjir Bandang Terhadap Sosial Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Adaptasi Petani di Nagari Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat” dalam ujian akhir yang digelar pada 18 Februari 2026 di Gedung Pascasarjana Universitas Andalas, bagian dari rangkaian akademik MMB Unand.
Penelitian tersebut mengangkat persoalan aktual dampak banjir bandang pasca-erupsi Gunung Marapi dengan pendekatan ilmiah berbasis Livelihood Vulnerability Index (LVI), LVI–IPCC framework, dan Food Insecurity Experience Scale (FIES).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh jorong di Nagari Limo Kaum berada pada kategori rentan sedang, dengan tingkat kerentanan tertinggi di Balai Labuah Bawah.
Sementara Dusun Tuo teridentifikasi sebagai wilayah paling rentan dalam analisis LVI-IPCC. Temuan tersebut menegaskan bahwa dampak bencana tidak hanya ditentukan oleh intensitas bahaya, tetapi juga oleh struktur kerentanan sosial-ekonomi dan kapasitas adaptif masyarakat.
Sebagai lulusan perdana, Aziz menjadi representasi pertama dari visi akademik MMB yang sejak awal dirancang sebagai program multidisipliner.
Program MMB Unand ini lahir dari kesadaran bahwa Sumatera Barat berada dalam lanskap risiko yang kompleks rentan terhadap gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, hingga bencana hidrometeorologi.
Karena itu, kurikulumnya mengintegrasikan pendekatan teknik, sosial, ekonomi, dan kebijakan publik.
Dengan status terakreditasi nasional, MMB Unand menegaskan bahwa sistem tata kelola, mutu dosen, kurikulum, dan proses akademiknya telah memenuhi standar pendidikan tinggi.
Momentum kelulusan pertama ini mendapat perhatian khusus dari salah satu pendiri program, Prof. Dr.Eng. Fauzan, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi MMB.
Ia menilai capaian ini sebagai bukti bahwa gagasan awal pendirian MMB telah menemukan bentuk nyatanya.
Menurutnya, sejak awal MMB Unand dibangun bukan hanya untuk membuka program studi baru, tetapi untuk menghadirkan ruang akademik yang mampu merespons risiko kebencanaan secara ilmiah dan kontekstual.
Ia menegaskan bahwa manajemen bencana hari ini tidak bisa lagi dipahami semata sebagai persoalan teknis.
“Kita harus membaca struktur kerentanan sosial, ekonomi, dan kapasitas adaptif masyarakat. Lulusan pertama ini menunjukkan bahwa pendekatan itu berjalan,” ungkapnya.
Dalam pandangannya, kualitas lulusan perdana akan menjadi tolok ukur reputasi akademik program di masa depan.
Pandangan tersebut selaras dengan evaluasi pembimbing utama tesis, Prof. Dr. Bambang Istijono, yang menilai penelitian Aziz kuat secara metodologis karena mampu mengintegrasikan analisis kuantitatif dan kualitatif secara seimbang.
Ia melihat penggunaan LVI, LVI-IPCC, dan FIES sebagai indikator kematangan ilmiah dalam membaca dampak bencana secara komprehensif.
Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan studi dalam tiga semester bukan semata soal kecepatan, tetapi soal konsistensi kerja akademik dan ketajaman analisis.
Sementara itu, Ketua Program Studi MMB, Prof. Yenny Narny, menilai kelulusan ini sebagai indikator bahwa sistem pembelajaran dan pembimbingan di MMB berjalan efektif.
Ia menegaskan bahwa sejak awal MMB dirancang dengan orientasi integratif menghubungkan teori risiko, analisis kerentanan, dan praktik kebijakan lapangan.
Dalam pandangannya, lulusan pertama menjadi refleksi langsung dari kualitas kurikulum dan komitmen akademik program.
Ia juga menekankan bahwa riset magister di MMB harus berdampak pada penguatan kapasitas daerah.
“Kami mendorong mahasiswa menghasilkan penelitian yang dapat menjadi dasar argumentasi kebijakan berbasis data. Lulusan pertama ini menunjukkan arah tersebut,” ujarnya.
Dengan lahirnya lulusan pascasarjana pertama yang berprestasi dan status program yang telah terakreditasi, MMB Universitas Andalas memasuki fase konsolidasi kualitas.
Kelulusan Abdul Aziz Nasta tidak hanya menandai keberhasilan individu, tetapi juga menjadi simbol awal perjalanan panjang MMB dalam mencetak generasi profesional kebencanaan yang mampu menjembatani sains, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat dalam membangun ketangguhan daerah secara berkelanjutan.
(/rel)



