Oleh Aulia Wahyudi *)
PARIAMAN, Kalibrasinews.com – Hingga kini, Pantai Gandoriah di Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat atau Sumbar tidak hanya menjadi ruang rekreasi, melainkan jadi ruang hidup bagi puluhan pedagang kecil. Utamanya, bagi mereka yang menggantungkan nafkah dari keramaian pengunjung di satu lokasi wisata primadona yang terdapat di ranah Minang ini.
Di antara riuh ombak dan suara anak-anak yang berlarian di Pantai Gandoriah Pariaman, terdapat cerita-cerita tentang kerja keras, ketahanan, dan harapan yang jarang terdengar. Dua di antaranya adalah Pak Peri, penjual donat keliling, dan Ibu Yanti, pedagang kacang rebus di Pariaman. Keduanya menjadi bagian dari denyut ekonomi kecil di tepi laut.
Suasana pagi hari di Pantai Gandoriah Pariaman belum terlalu ramai ketika Pak Peri mengayuh sepeda tuanya menyusuri bibir pantai di kawasan Pariaman. Di bagian belakang sepedanya tergantung wadah besar berisi donat.
“Sudah tiga bulan ini saya jualan donat di pantai,” ujarnya saat ditemui di bawah pohon kelapa. Sebelumnya, pria berusia 46 tahun itu mengaku pernah bekerja serabutan—berladang, menjadi buruh bangunan, hingga kerja proyek.
Donat yang ia jual bukan hasil produksinya sendiri. Ia mendapat pasokan dari seorang pemodal yang dikenalnya. Setiap donat dibeli seharga Rp1.500 dan dijual kembali Rp2.000. Artinya, keuntungan bersihnya Rp500 per donat.
“Sehari bisa bawa 250 sampai 300 donat. Kalau habis semua, ya lumayan,” katanya sambil tersenyum tipis.
Dalam sehari imbuhnya, apabila dagangan laris, ia bisa membawa pulang keuntungan yang cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Pada pagi hingga siang hari ia berjualan di pantai, lalu sore hari biasanya berpindah ke depan SMA Negeri 5 Pariaman untuk mencari pembeli dari kalangan pelajar.
Menurutnya, pekerjaan ini tidak terlalu berat, asalkan kuat menghadapi panas matahari dan lelah bersepeda. “Dan, hal yang penting jalan terus. Kalau tidak jualan, tidak ada pemasukan,” ujarnya sederhana.
Andalkan Kacang Rebus dan Keramaian
Tidak jauh dari tempat Pak Peri berjualan, adapula Ibu Yanti duduk di bawah payung biru dengan wadah besar berisi kacang rebus. Perempuan 45 tahun asal Nareh, Pariaman Utara, ini sudah sekitar lima tahun berdagang di Pantai Gandoriah.
Berbeda dengan Pak Peri, Ibu Yanti mengelola seluruh proses sendiri. Ia membeli kacang di pasar pagi, merebusnya di rumah, lalu membawanya ke pantai untuk dijual. “Kalau hari biasa paling dapat sekitar dua ratus ribu rupiah,” katanya.
Namun saat akhir pekan, penghasilannya bisa meningkat hingga Rp700 ribu per hari. Bahkan saat musim libur atau acara besar seperti Tabuik, ia mengaku bisa meraih lebih dari Rp1 juta dalam sehari. “Tabuik itu paling ramai. Pedagang semua senang,” tuturnya.
Bagi pedagang kecil seperti dirinya, momentum keramaian menjadi penentu utama penghasilan. Pantai yang sepi berarti pemasukan yang minim.
Namun kondisi itu sempat berubah drastis ketika pandemi Covid-19 melanda. Pantai ditutup total, tidak ada pengunjung, dan pedagang kehilangan sumber pendapatan. “Waktu itu susah sekali. Pantai ditutup, tidak boleh jualan,” kenangnya.
Demi bertahan, Ibu Yanti mencoba berjualan gorengan di rumah dan menjajakan kacang rebus secara keliling dari rumah ke rumah. Modal Rp150 ribu hanya menghasilkan keuntungan sekitar Rp100 ribu, itupun jika laku. “Kadang cukup, kadang tidak. Semua orang waktu itu susah,” ujarnya pelan.
Situasi tersebut berlangsung cukup lama hingga akhirnya pantai kembali dibuka. Tabuik pertama setelah pandemi menjadi momentum yang sangat berkesan baginya. Keramaian kembali hadir, dan penjualan melonjak drastis. “Itu rasanya seperti hidup lagi,” katanya.
Sejarah Kecil di Tepi Laut
Kisah Pak Peri dan Ibu Yanti menunjukkan bahwa kehidupan di Pantai Gandoriah tidak hanya tentang wisata dan hiburan. Ada roda ekonomi kecil yang terus berputar—bergantung pada cuaca, musim, dan jumlah pengunjung.
Setiap donat yang terjual dan setiap bungkus kacang yang berpindah tangan bukan sekadar transaksi, melainkan bagian dari perjuangan bertahan hidup. Mereka bukan pengusaha besar, tetapi pekerja informal yang mengandalkan tenaga sendiri tanpa jaminan tetap.
Pantai bagi mereka bukan hanya ruang rekreasi, melainkan ruang harapan. Di tengah ketidakpastian ekonomi, kenaikan harga bahan pokok, dan kemungkinan cuaca buruk, para pedagang tetap datang setiap hari.
Selama itu pula, terlihat mereka membuka lapak sejak pagi dan menutupnya saat senja, berharap hari itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Suara deburan ombak di Pantai Gandoriah terus bergulung tanpa henti. Di antara suara itu, ada suara lain yang lebih pelan suara kerja keras, ketekunan, dan ketahanan hidup masyarakat kecil yang jarang terdengar, tetapi nyata.
Dan, selagi ombak berdebur maka denyut nadi perekonomian pedagang kecil yang butuh suntikan modal dari penyandang dana terus bergulir. Mereka akan bertahan hidup, meskipun sesulit apapun perekonomian demi menghidupi keluarga mereka.
*) Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Unand



