JAKARTA, Kalibrasinews.com – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk melakukan reformasi besar-besaran di sektor pendidikan, mulai dari perbaikan infrastruktur sekolah hingga digitalisasi pembelajaran secara nasional.
Langkah reformasi ini, menurut Prabowo, bukan sekadar program jangka pendek, melainkan bagian dari visi besar pemerintah dalam membangun generasi masa depan yang unggul dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Ia menilai bahwa sektor pendidikan harus menjadi prioritas utama karena berpengaruh langsung terhadap kualitas sumber daya manusia, yang pada akhirnya menentukan daya saing Indonesia di tingkat global dalam menghadapi era persaingan yang semakin ketat.
Siaran pers (press release) Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) merilis bahwa Presiden Prabowo Subianto menegaskan, pemerintah tengah mempercepat program renovasi sekolah dengan target 300 ribu unit dalam lima tahun ke depan.
Pemerintah, lanjutnya, juga telah melakukan pemetaan menyeluruh terhadap kondisi sekolah di berbagai daerah, baik di perkotaan maupun wilayah terpencil. Pemetaan ini mencakup tingkat kerusakan bangunan, ketersediaan fasilitas penunjang, hingga kebutuhan tenaga pengajar, sehingga program renovasi yang dilakukan tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan agar hasilnya lebih optimal dan tepat sasaran.
“Saya sedang melaksanakan perbaikan fisik sekolah-sekolah. Tahun lalu kita hanya mampu 17 ribu sekolah. Tahun ini 70 ribu sekolah. Tahun depan saya ingin naik 90 ribu sekolah. Lima tahun saya ingin selesaikan 300 ribu sekolah,” ujar Prabowo dalam dialog bertajuk “Presiden Prabowo Jawab Kritikan MBG, BOP Terkait Palestina & Nego Tarif Amerika Dengan Donald Trump” yang tayang, Sabtu (21/3/2026).
Ia menegaskan bahwa percepatan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi juga melibatkan peran aktif pemerintah daerah serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dengan kolaborasi yang kuat, proses pembangunan dan renovasi sekolah diharapkan dapat berjalan lebih cepat, efisien, serta mampu menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini sulit tersentuh pembangunan.
Transformasi Sistem Pembelajaran melalui Digitalisasi di Seluruh Sekolah di Tanah Air.

Transformasi digital dalam dunia pendidikan, menurut Prabowo, menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda, mengingat perkembangan teknologi global yang berlangsung sangat cepat.
Ia menilai bahwa sistem pembelajaran konvensional perlu diperkuat dengan pendekatan berbasis teknologi agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dunia digital yang kini menjadi bagian penting dalam berbagai sektor kehidupan.
Prabowo mengatakan, telah mendistribusikan lebih dari 288 ribu unit papan pintar interaktif (Interactive Flat Panel) sampai ke daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Distribusi perangkat tersebut juga diprioritaskan untuk wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan berkualitas, seperti daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Dengan langkah ini, pemerintah berharap kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan dapat ditekan secara signifikan, sehingga setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Presiden menjelaskan, perangkat tersebut dilengkapi dengan materi pembelajaran yang dapat membantu siswa memahami pelajaran secara lebih interaktif.
Menurut Prabowo, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tidak hanya membantu siswa dalam memahami materi secara lebih interaktif, tetapi juga memberikan kemudahan bagi guru dalam menyampaikan pelajaran. Guru dapat memanfaatkan berbagai fitur digital yang tersedia untuk memperkaya metode pengajaran, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih dinamis dan tidak monoton seperti sebelumnya.
“Di tiap interactive ini ada software yang kita isi, hampir semua silabus pelajaran ada di situ. Jadi habis satu kelas pelajaran, kalau guru ingin ulangi, ada,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran materi pembelajaran digital yang telah terstandarisasi akan membantu menyamakan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.
Dengan demikian, siswa di berbagai daerah, termasuk yang berada di wilayah terpencil, tetap dapat mengakses materi dengan kualitas yang setara dengan sekolah-sekolah di kota besar.
Lebih lanjut, Prabowo mengungkapkan bahwa pemerintah juga menyiapkan sistem pengajaran terpusat untuk mengatasi ketimpangan kualitas guru di berbagai daerah.
Konsep pengajaran terpusat ini diharapkan mampu menjadi solusi konkret atas ketimpangan distribusi tenaga pengajar yang selama ini menjadi persoalan klasik dalam dunia pendidikan Indonesia.
Dengan menghadirkan guru-guru terbaik secara virtual, siswa di daerah yang kekurangan tenaga pengajar tetap dapat memperoleh pembelajaran berkualitas tanpa harus menunggu pemerataan guru secara fisik.
“Nanti kita punya studio, guru-guru terbaik akan ngajar di sekolah yang tidak ada guru matematika, yang tidak ada guru bahasa Inggris, dia dapat pelajaran. Dan Interactive, kita bisa monitor di kelas,” jelasnya.
Selain itu, sistem ini juga memungkinkan pemerintah untuk melakukan pemantauan secara langsung terhadap proses pembelajaran di kelas. Evaluasi dapat dilakukan secara berkala dan berbasis data, sehingga kualitas pendidikan dapat terus ditingkatkan melalui perbaikan yang terukur dan berkelanjutan.
Presiden menegaskan, reformasi pendidikan ini merupakan bagian dari strategi besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di tengah perkembangan teknologi global.
“Ini lompatan-lompatan dalam langkah human capital,” tegas Prabowo.
Menurut Presiden, pendidikan menjadi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah berharap reformasi pendidikan tidak hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur dan digitalisasi semata, tetapi juga mampu menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi semua pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, tenaga pendidik, hingga masyarakat luas, agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh generasi mendatang serta mampu mendorong kemajuan bangsa secara menyeluruh.
(rel)



