MAKASSAR, Kalibrasinews.com — Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman memproyeksikan stok pangan dalam negeri akan sangat aman hingga 11 bulan ke depan. Capaian ini tidak lepas dari berbagai langkah yang dilakukan pemerintah.
Fenomena El Nino yang diprediksi terjadi dalam beberapa bulan ke depan menjadi perhatian serius pemerintah karena berpotensi memicu penurunan curah hujan secara signifikan di sejumlah wilayah.
Kondisi ini dapat berdampak langsung terhadap sektor pertanian, terutama dalam hal ketersediaan air untuk lahan produksi pangan.
Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa berbagai langkah antisipatif telah disiapkan sejak dini guna menghadapi potensi kekeringan tersebut. Upaya ini dilakukan agar produksi pangan tetap terjaga dan tidak mengalami penurunan drastis.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman
Menurut Amran, ketersediaan pangan, terutama beras yang sangat melimpah, akan membuat Indonesia tahan terhadap dampak kekeringan ekstrem yang disebut sebagai El Nino ‘Godzilla’. Kekeringan ini diperkirakan berlangsung sekitar enam bulan.
“Artinya, 11 bulan ke depan ini aman. Stoknya untuk rakyat Indonesia aman. Sedangkan kekeringan hanya 6 bulan. Berarti aman, pangan aman,” kata Amran, ditulis Senin (6/4/2026) melalui rilis Bakom RI.
Perhitungan ketahanan stok pangan ini didasarkan pada gabungan ketersediaan beras nasional saat ini, baik yang ada di gudang Bulog, sektor swasta, maupun potensi panen yang sedang dan akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Ketersediaan stok dalam jumlah besar tersebut menjadi indikator bahwa sistem ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi yang relatif kuat.
Tidak hanya mengandalkan cadangan yang ada, pemerintah juga memperhitungkan siklus produksi dan distribusi yang berjalan secara berkelanjutan.
Dengan perencanaan yang matang, potensi gangguan akibat perubahan cuaca ekstrem dapat diminimalisir. Hal ini menjadi penting untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Menurutnya, stok beras di gudang Bulog saat ini mencapai 4,5 juta ton. Dalam 20 hari ke depan, jumlah tersebut diprediksi akan bertambah menjadi 5 juta ton.
Selain jumlah cadangan yang mencukupi, kelancaran distribusi juga menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan pangan di seluruh wilayah.
Pemerintah bersama berbagai pihak terus memastikan jalur distribusi berjalan optimal agar tidak terjadi ketimpangan pasokan antar daerah.
Peran sektor swasta juga dinilai sangat strategis dalam mendukung ketersediaan pangan nasional. Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan, terutama saat menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
“Ini belum pernah terjadi seperti yang kita lihat hari ini,” ujar Amran.
Selain itu, terdapat stok beras swasta di sektor perhotelan, restoran, dan kafe (Horeka) yang saat ini mencapai 12,5 juta ton.
Kemudian, ada juga tambahan stok dari hasil panen tanaman yang sudah ada (standing crop) dengan potensi sebesar 11 juta ton.

Program pompanisasi untuk mengantisipasi penurunan produksi akibat cuaca panas mulai April 2026,
Tak hanya itu, melalui berbagai kebijakan seperti program pompanisasi untuk mengantisipasi penurunan produksi akibat cuaca panas mulai April 2026, Amran memperkirakan akan ada tambahan panen hingga 2 juta ton per bulan.
Program pompanisasi yang dijalankan menjadi salah satu strategi utama dalam menghadapi potensi kekeringan. Dengan memanfaatkan sumber air alternatif, petani diharapkan tetap dapat menjalankan aktivitas tanam meskipun curah hujan menurun.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan teknologi pertanian yang lebih efisien serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga produktivitas sektor pertanian dalam jangka panjang.
Tambahan tersebut diprediksi berlangsung selama periode El Nino ‘Godzilla’ atau sekitar 6 bulan. Artinya, akan ada tambahan stok beras sebesar 12 juta ton.
Dengan demikian, stok beras diperkirakan sangat aman, bahkan hingga lebih dari 11 bulan atau sampai puncak panen tahun 2027.
“Berarti bisa sampai Maret, panen puncak tahun depan, aman. Bahkan bisa overlap sampai April 2027. Jadi, aman,” pungkasnya.
Sebagai langkah mitigasi tambahan, pemerintah juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan kondisi produksi di berbagai daerah sentra pertanian.
Koordinasi lintas sektor diperkuat guna memastikan setiap potensi gangguan dapat segera direspons dengan cepat dan tepat, sehingga stabilitas pasokan pangan tetap terjaga di tengah ancaman kekeringan yang diprediksi berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Dengan berbagai langkah antisipasi yang telah disiapkan, pemerintah optimistis ketersediaan pangan nasional tetap terjaga meskipun menghadapi ancaman El Nino.
Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat dinamika perubahan iklim yang tidak menentu. Sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha menjadi kunci utama dalam memastikan ketahanan pangan tetap stabil hingga masa mendatang.
(/rel)



